Andalan

First blog post

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Iklan

Jomblo

Screenshot_2017-10-04-13-15-30-1

 

Di Amerika Serikat ada sebuah perusahaan film yang khusus memproduksi film-film remake dan reboot film horor. Freddy vs Jason merupakan salah satu yang dibuat pada tahun 2003 silam.

Di Indonesia, sejak beberapa tahun belakangan, sebuah bendera perusahaan film bernama Falcon Picture mulai melakukan hal serupa. Dimulai dengan membuat Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!! Part 1 tahun lalu dan part 2nya dirilis September kemarin. Masih di tahun yang sama Falcon kembali mengeluarkan film reboot buatannya.

Kali ini Jomblo, diangkat dari sebuah novel karya Adhitya Mulya, film ini juga kembali disutradari Hanung Bramantyo. Film pertama yang dirilis pada tahun 2006 diisi dengan soundtrack yang dinyanyikan Serieus Band. Dibintangi Ringgo Agus, Christian Sugiono, Risky Hanggono, Dennis Adiswara, serta Rianty Cartwrigth dan Nadia Saphira.

Pada film pertama, kekuatan komedi yang menjadi napas film ini dibebankan kepada Agus Ringgo yang memulai debut di film itu dan Dennis Adiswara si Mamet dalam AADC. Konon, film yang diganjar imdb dengan nilai 7,2 itu “memanfaatkan” tampang culun dari keduanya.

Kali ini, kekuatan napas itu berada di tangan Ge Pamungkas dan Ari Keriting. Sementara untuk urusan pemikat penonton menjadi tanggung jawab Richard Kyle dan Deva Mahendra.

Background Ge Pamungkas dan Ari Keriting yang berasal dari Comedy Stand Up, bisa jadi adalah sebuah nilai plus-minus yang tentu saja adalah tanggung jawab Hanung sebagai nahkoda. Plusnya, mungkin mereka nggak bakalan diragukan soal ekspektasi humor yang gue sendiri ngarep bakalan heboh. Mengingat mereka ahli di bidang itu. Minusnya, jika nanti ternyata nggak sesuai harapan, tentu film ini akan kembali flop seperti pendahulunya. Lihat saja besok tanggal 5.

Kekecewaan Setelah Menonton Pengabdi Setan

FB_IMG_1507032397978

 

Tulisan gue (status di facebook) tentang Pengabdi Setan kemarin mendapat tanggapan sarkas melalui pesan masuk dari beberapa teman. Salah satu di antaranya bahkan menyebut sampah buat karya yang diperlukan waktu melamar selama sepuluh tahun untuk mendapatkan restu dari sang pemilik karya orisinilnya.

Beberapa kekurangan dan kejanggalan adalah dua di antara alasan mengapa hasil kerja Joko Anwar yang justru mendapat apresiasi tinggi dari IMDB itu mendapat jempol terbalik. Seorang teman menyebut bahwa kurang seram dan kurang tegang serta kemunculan segambreng hantu dan pocong menjelang klimaks merupakan kesalahan telak. “Nggak nyambung,” tukasnya. Sementara yang lain menukil akhir ceritanya cuma yang “segitu aja”, dinilai nggantung dan tidak genah juntrungannya.

Mereka, gue rasa sambil geleng-geleng kepala, sedikit memaksa gue buat menjelaskan kenapa gue sampai segitu freak-nya sama karya yang mereka sebut (melalui nada merendahkan); begitulah….

“Lu doyan sama film begituan?”

Well, ini jawaban gue. Ketika gue datang ke bioskop buat nonton, yang ada di dalam benak gue adalah rasa penasaran akibat haus akan hasil kerja duet antara Joko Anwar dan Tara Basro (lagi) Gue sama sekali nggak punya ekpekstasi melonjak plus bayangan di atas normal mengenai standar seram sebuah film horor. Alasannya, karena setiap individu punya pengalaman-perasaan mereka sendiri-sendiri. Konon, katanya sih hal yang demikian itu berkaitan dengan tingkat psikologi setiap orang. Seperti misalnya sewaktu nonton Conjuring 2 atau Annabelle tempo hari. Biar kata si Valak seremnya naudzubillah dan sampai juga ada cowok yang parno lihat boneka, buat gue kedua film itu nggak ngasih efek psikologis apa-apa ke gue. Sebab, seserem-seremnya mbak Valak, toh mereka ngendonnya di Amerika Serikat sono. Jadi, blas gue nggak ada takut-takutnya sama sekali. Kecuali, yah kaget aja sepanjang ada scene penampakan mbak Valak.

Pengalaman berbeda jauh gue rasain saat nonton Pengabdi Setan kemarin. Yakni, perasaan gue betul-betul kena teror. Pertama ya karena ini film bikinan deswan endownesah dan alasan kenapanya gue bahas di atas. Berikutnya adalah aura seram rumah dan kawasan sepi yang nglangut. Akting para pemain yang mumpuni. Serta sederet adegan-adegan yang betul-betul merongrong perasaan gue.

Dada gue sesek, bukan karena bengek, saat adegan Ibu wafat. Di situ gambaran sebuah keluarga yang berhadapan dengan kematian bikin gue flashback ke belakang saat beberapa anggota keluarga besar gue satu per satu berpulang sampai gue juga keseret buat ngebayangin gimana kalau nanti terjadi lagi dan lagi. Di situlah salah satu “lengan” Pengabdi Setan menjerat gue. Kemudian berlanjut ke adegan Ibu diturunkan ke liang lahat. Pas penutup muka dibuka, kedua lobang hidung ditutup menggunakan kapas, dimiringkan menghadap kiblat dan diganjal menggunakan gumpalan tanah itu betul-betul menekan gue.

Yaks, pengalaman itu ditanggapi temen gue sambil ketawa ngakak. Dia bilang gue baper.

“Well, you got the point there!” dengan percaya diri gue bilang seperti itu.

Sudah gue jelasin kalau apresiasi gue berdasar pada pengalaman-perasaan yang gue alami. Buat gue, serangkaian adegan horor itu adalah sebuah, yah, khotbah yang menurut gue bener cara penyampaiannya karena gue sendiri udah skeptis dengan yang namanya khotbah paska pemilu 2014 lalu. Khotbah itu disampaikan menggunakan format “show dont tell”. Cara penyampaiannya itu bikin gue malu, yang akhirnya nyeret gue buat, ehem, kepingin sholat, dan bukannya malah merasa terhakimi seperti yang lazim dilakukan siapa saja, dan di mana saja. Lebih-lebih paska Pilkada Jakarta kemarin itu.

Sekali lagi temen gue ketawa, tapi kelihatannya dia sambil mikir yang dilanjut dengan satu pertanyaan yang agak terdengar (maaf) bodoh. Yakni, kok endingnya gitu amat? Setannya loh, kok gak jelas nasibnya, dan apa hubungan si cantik Darminah sama si Aik?

Sambil remind Mbak Darminah menari, gue, kurang lebih menjawab begini; “Oi, kalau lu ngarep setannya mati kena tonjok atau dibacain ayat kursi, itu tandanya lu kudu ngecek ke dalam, ‘sudah berapa kali lu nonton film horor’? Hubungan Mbak Darminah sama Aik apa? Oh, ke mana saja sepanjang 104 menit itu? Please, cerdaslah sedikit. Berimajilah.”

Dua orang temen fix menganggap gue gila karena jawaban gue nggaak sesuai dengan apa yang mereka logikakan. Dan hasilnya, nama mereka di kotak pesan menjadi “Pengguna Facebook” tanpa adanya foto profil kecuali sebuah gambar abstrak yang disediakan facebook dan peringatan jika gue nggak bisa membalas pesan mereka lagi. []

 

#pengabdisetan #jokoanwar
#tarabasro #ewinsuherman
#gajahmadacinemategal
Ps; sumber foto dari akun ig joko anwar

Imdb Untuk Pengabdi Setan

Screenshot_2017-10-03-23-21-41-1-1

Semenjak A Copy of My Mind  tahun lalu, duet Joko Anwar-Tara Basro seperti hubungan baik Martin Scorsese-Leonardo DiCaprio, sebuah simbiosis mutualisme jenis unggul. Nama belakang pun terdengar seperti saat mengeja nama Sam Mendes (baca: garansi film bagus dan bermutu.)

Kerja keras lagi dan lagi menguras banyak energi. Jika lewat kisah Sari dan Alex gue dibikin nelangsa, kini melalui ujian jumpsphere yang meneror perasaan, Joko dan Tara berkali-kali pak gue teriak “Allahu Akbar” kayak sepanjang durasi film.

Yang menarik adalah Nazar Annuz sebagai Bondi dan M. Adiyat yang berperan sebagai Ian. Akting mereka begitu alami, atmosphere kanak-kanak yang dibangun seolah-olah direkam dari keseharian mereka sebagaimana bocah sepuluh dan tujuh tahun. Ayu Laksmi yang rela dikafani dan dimiringkan menghadap kiblat terlalu sadis menekan mental. Bront Palarae sebagai Bapak pun sama sekali tidak mengecewakan. Lihat pembawaannya saat berbincang dengan Pak Ustad, telapak tangannya mengusap-usap meja terlihat sebagai tindakan mahfum dilakukan seseorang grogi saat berterima kasih kepada orang yang sudah membantunya. Dimas Aditya yang biasanya tampil klimis itu pun bersedia merombak tampilannya habis-habisan jadi mirip Robby Sugara.

Tidak heran jika imdb memberi ratting tinggi 8,5 ingatan jalinan yang kuat antara cerita dan permainan para pemerannya diramu Joko dengan takaran yang tepat.

Nah, teman duduk gue hampir gak bisa diam sepanjang film. Mengumpat lebih bangsat dari gue berkali-kali. Kaki gemeteran bukan karena rendahnya setelan AC, tentu saja. Hal itu kian diperparah dengan pocong yang dishoot dari jarak yang dibuatnya bikin gue juga berteriak “Allahu Akbar” buat kesekian kali. Terakhir, malam ini gue nginep di tempat temen!

#imdb #gajahmadacinemategal
#pengabdisetan #jokoanwar #tarabasro #ewinsuherman

** gambar ilustrasi dari ig @jokoanwar